08135927112
admin@man2-flotim.sch.id
Napak Tilas H. Ali Taher Parasong: Sang Peletak Sejarah di Bukit Peradaban Lamakera
Napak Tilas H. Ali Taher Parasong: Sang Peletak Sejarah di Bukit Peradaban Lamakera
Fri, 28 August 2026
Penulis : moh ismail
Pendiri MAN 2 Flores Timur

Napak Tilas H. Ali Taher Parasong: Sang Peletak Sejarah di Bukit Peradaban Lamakera

Oleh: Moh. Ismail (Kepala MAN 2 Flores Timur)

Sejarah sebuah peradaban selalu lahir dari tangan-tangan dingin mereka yang berani bermimpi melampaui batas zamannya. Di ujung timur Pulau Solor, tepatnya di perkampungan nelayan Muslim Lamakera, sejarah itu dipahat oleh seorang putra daerah terbaiknya: Dr. H. Muhammad Ali Taher Parasong, S.H., M.Hum.

Kisah hidupnya bukan sekadar biografi tokoh politik, melainkan sebuah epik tentang perjuangan, pendidikan, dan cinta yang mendalam pada kampung halaman. Berikut adalah napak tilas perjuangan beliau yang akan selalu menjadi ruh bagi perjalanan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Flores Timur.

1. Akar Kemandirian: Anak Nelayan yang Menantang Ombak Ibu Kota Lahir pada 9 Februari 1961 di Lamakera, Flores Timur, Ali Taher kecil tumbuh di tengah deburan ombak dan kerasnya kehidupan pesisir. Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan langkahnya; justru menjadi cambuk yang menempa mentalnya. Pada era 1970-an, dengan tekad yang bulat, ia merantau ke belantara Jakarta.

Bertahan hidup di ibu kota bukanlah perkara mudah. Di Jakarta Barat, ia pernah meniti jalan terjal dengan menjadi penjaga sebuah sekolah Muhammadiyah demi menyambung pendidikan dan kehidupan. Dari lorong-lorong sekolah itulah, ruh perjuangan Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah meresap dalam dadanya, membentuk karakter seorang pejuang yang kelak tak kenal lelah menyuarakan hak-hak kaum marginal.

2. Transformasi Politik: Menjadikan Kekuasaan sebagai Alat Pengabdian Kecerdasannya membawa Ali Taher melesat ke panggung nasional. Karier politiknya membentang panjang, dimulai sebagai Anggota MPR RI (1997-1999) mewakili PPP, hingga kemudian berlabuh menjadi kader militan Partai Amanat Nasional (PAN).

Puncak pengabdiannya di parlemen terekam kuat saat ia menjabat sebagai Anggota DPR-RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Banten III sejak 2014, dan puncaknya diamanahkan menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI (2016-2019). Di pos inilah (yang membidangi Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan), Ali Taher menemukan momentum untuk mengeksekusi visi-visi keumatannya, termasuk bagi tanah kelahirannya di Nusa Tenggara Timur.

3. Monumen Pendidikan: Ikhtiar Menegerikan MAN 2 Flores Timur Bagi masyarakat Lamakera, legacy terbesar seorang Ali Taher bukanlah jabatan menterengnya di ibu kota, melainkan kepeduliannya pada pendidikan anak-anak pesisir. Penegerian Madrasah Aliyah di Lamakera bukanlah proses administratif biasa; ia adalah sebuah political will tingkat tinggi.

Ali Taher menyadari bahwa pendidikan adalah satu-satunya eskalator sosial yang mampu mengangkat derajat masyarakat. Beliau pernah berujar bahwa perjuangan menegerikan madrasah ini adalah ikhtiar suci untuk

Momen penyerahan SK Penegerian dan peletakan batu pertama gedung MAN 2 Flores Timur di Lamakera oleh beliau menjadi titik nol dari apa yang kini kita sebut sebagai Bukit Peradaban Lamakera. Kehadirannya seakan menyambung kembali estafet perjuangan tokoh Lamakera terdahulu, KH. Abd Syukur ID, yang merintis Kantor Kemenag Sunda Kecil pada dekade 1950-an.

4. Oase Toleransi: Menjembatani Umat di Bumi Flobamora Dimensi kemanusiaan Ali Taher melampaui sekat-sekat agama. Tumbuh sebagai seorang Muslim yang taat dari kampung Islam, beliau nyatanya pernah mengenyam pendidikan di SDK Katolik El Tari Riangbao, Lembata. Pengalaman empiris ini menumbuhkan pemahaman yang mendalam tentang indahnya hidup berdampingan.

Saat menjabat, wawasan inklusif ini beliau praktikkan. Ketika berkunjung ke Flores Timur, beliau tidak hanya mengurus madrasah. Beliau memimpin dialog kerukunan umat beragama di Larantuka, bersilaturahim secara hangat ke kediaman Uskup Larantuka, hingga memberikan bantuan konkret berupa satu unit mobil jenazah untuk operasional kesusteran. Ini adalah manifestasi nyata dari politik rahmatan lil ‘alamin.

5. Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu Takdir Tuhan memanggil Dr. H. Ali Taher Parasong pada 3 Januari 2021 di Jakarta, di usianya yang ke-59 tahun, di tengah gempuran pandemi COVID-19. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam tak hanya bagi keluarga besar PAN dan Muhammadiyah, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Lamakera dan Flores Timur.

Meski jasadnya telah berpulang, ruh, dedikasi, dan cita-citanya tetap hidup. Setiap kali bel masuk berbunyi di MAN 2 Flores Timur, setiap kali lantunan ayat suci menggema dari ruang-ruang kelas di Bukit Peradaban Lamakera, di sanalah pahala jariyah seorang anak nelayan itu terus mengalir.

Dari Jakarta, ia pulang bukan sekadar membawa cerita sukses, melainkan membawa kail pendidikan bagi generasi mendatang. Tugas kita hari ini—guru, siswa, dan masyarakat—adalah merawat, membesarkan, dan meneruskan nyala api semangat sang peletak sejarah.

Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

Artikel

Artikel Lainnya

Menjadi Guru: Bukan Sekadar...
Menjadi Guru: Bukan Sekadar Profesi, Melainkan Panggilan Jiwa dan Dedikasi Tak Kasat MataOleh: Moh Ismail. Banyak yang memandang profesi guru...
Fri, 28 August 2026 | 5:36
Wakamad Kesiswaan Bekali Jati...
FLORES TIMUR (Humas) — Memasuki hari pertama pelaksanaan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) Tahun Pelajaran 2026/2027, Wakil Kepala Madrasah (Wakamad)...
Mon, 27 July 2026 | 3:30
MAN 2 Flotim Gelar...
FLORES TIMUR (Humas) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Flores Timur resmi membuka kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) tahun...
Mon, 27 July 2026 | 3:16
Apresiasi Prestasi dan Ketegasan...
Pengumuman Kelulusan Murid MAN 2 Flores Timur Lamakera (MAN 2 FLOTIM) – Suasana haru dan bangga menyelimuti Lapangan Terpadu MAN...
Thu, 7 May 2026 | 3:12